TUJUAN PENGKADERAN MAPABA PMII
TUJUAN PENGKADERAN MAPABA PMII
Oleh: Ach. Kurniawan (Ketua Kaderisasi PK PMII
Makhdum Ibrahim Tuban)
A. Pengertian
Masa
penerimaan anggota baru (MAPABA) adalah masa penerimaan anggota baru dan
merupakan orientasi ataupun pengenalan awal yang juga merupakan
forum pengkaderan formal tingkat pertama dalam PMII. Pada masa
ini lebih ditekankan pada doktrinasi ideologi untuk membentuk kader yang memiliki komitmen serta loyalitas pada pergerakan selanjutnya.
B. Model Pendekatan
Dalam PMII, MAPABA merupakan wahana awal pengenalan PMII dan
penanaman nilai-nilai (doktrinasi) yang ada di PMII dan juga membangun
idealitas sosial. Pada fase ini harus ditanamkan makna idealisme
yang bermuatan religius bagi mahasiswa dan urgensi perjuangan untuk idealisme
itu mulai PMII baik pada struktur formalnya sebagai organisasi ataupun sebagai
aspek substansinya sebagai komunitas gerakan mahasiswa yang berlatar kultur Islam.
Pendekatan yang digunakan dalam
pelaksanaan MAPABA adalah:
1.
Doktrinasi, yaitu pemahaman serta
pembekalan keyakinan dan faham PMII.
2.
Persuasi, yaitu pendekatan positif
untuk meyakinkan dan menarik minat lebih lanjut anggota PMII.
C.
Tujuan dan target
Tujuan dan target yang hendaknya dicapai pada masa MAPABA adalah:
1.
Tertanamnya keyakinan pada setiap
individu anggota bahwa PMII adalah organisasi kemahasiswan yang paling tepat
untuk mengembangkan diri (potensi) dan PMII sebagai way of life.
2.
Tertanamnya keyakinan pada setiap
individu anggota bahwa PMII adalah wahana untuk memperjuangkan idealisme dalam
konteks kemahasiswaan, kebangsaan, ataupun kemasyarakatan.
3.
Memiliki keyakinan terhadap Ahlu
Sunnah Wal Jamaah (ASWAJA) sebagai mazhab yang tepat untuk mengembangkan diri,
memperjuangkan idealisme, dan untuk memahami dan mendalami Islam baik secara
tekstual maupun kontekstual.
4.
Dari mapaba
ini out put yang dinginkan adalah aggota yang memiliki komitmen dan militan terhadap
PMII kedepan.
5.
Anggota pasca MAPABA disebut Mu’takid,
yakni anggota yang;
a.
Merasa butuh akan organisasi.
b.
Memiliki keyakinan dan loyalitas
tinggi bahwa PMII adalah organisasi mahasiswa Islam yang paling tepat untuk
memperjuangkan idealisme sebagai mahasiswa.
c.
Mengikuti ASWAJA sebagai prinsip
pemahaman, pengalaman dan penghayatan Islam Indonesia (nusantara).
D.
Proses Pengkaderan
Pengkaderan merupakan suatu proses pembentukan karakter seseorang agar sepaham dengan
ideologi ataupun agar orang tersebut mengerti aturan-aturan yang ada dalam
suatu kelompok, sehingga orang tersebut dengan mudah menyusuaikan diri dengan
lingkungan barunya tersebut. Pengkaderan juga berfungsi sebagai sarana memperkenalkan lingkungan kepada
mahasiswa baru dan saling mengenal antar sesama mahasiswa
baru (masa orientasi). Dan Pengkaderan pada hakikatnya sebuah hal yang penting di dalam suatu kelompok
ataupun organisasi, agar kelompok atau organisasi tersebut dapat membentuk
kader-kader baru yang berkualitas, yang tentunya kedepanya akan berguna bagi
kelompok atau organsasi tersebut. Karena akan ada regenerasi yang baik di dalam
kelompok atau organisasi tersebut karena banyaknya kader-kader yang
berkualitas.
Disini
berbicara mengenai Pengkaderan tidak terlepas dari kelompok
atau organisasi, PMII (Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia) merupakan organisasi pengkaderan tingkat mahasiswa yang mempunyai tujuan
terbentuknya pribadi muslim yang bertaqwa kepada Allah SWT, berilmu, berbudi
luhur, tangkas dan bertanggung jawab dalam mengamalkan ilmunya dan komitmen
memperjuangkan cita-cita kemerdekaan Indonesia. Sebagai organisasi pengkaderan,
yang posisinya berada di luar (ekstra) kampus, yang secara bertahap terus
melakukan proses kaderisasi, baik secara formal, maupun non formal.
Konsep
atau strategi pengkaderan yang baik dan rapi dibutuhkan
kebanyakan organisasi, untuk menciptakan kader yang berkualitas. Pengkaderan dengan konsep yang baik bagi mahasiswa baru, agar tidak ada kata
kader terlantar maka perlu melihat dari esensi serta tujuan dari pengkaderan
itu sendiri. PMII dengan manhaj ahlus sunnah wal jamaah yang sampai sekarang menjadi
prinsip landasan pikir. Dalam hal ini tidak kekurangan cara untuk merangkul
semua kader yang begitu banyaknya, yang pertama dalam PMII telah melakukan
proses adaptasi dan terbuka dengan bentuk ormas- ormas Islam yang lain dan juga
tidak mengesampingkan tradisi budaya yang berlaku di Indonesia, sebagai bentuk
modal akulturasi budaya dan ideologi yang pernah di lakukan oleh walisongo.
bahkan kekhasan model pengkaderan berbagai ormas Islam di Indonesia
sangat di pertimbangkan untuk mencari atau membuat suatu bentuk pengkaderan
yang lebih dinamis dan tidak bertentangan dengan manhaj dari PMII itu sendiri.
Tidak ada
kata memaksa dalam PMII, karena kembali lagi kepada esensi serta tujuan dari
PMII itu sendiri, bahkan tiada kata membeda-bedakan antara senior dan
juniornya, karena hakekat semuanya adalah sahabat, jadi dalam proses
pengkaderan, kader tidak merasa dideskriminasikan, semua guyub dan rukun dalam
wadah PMII, inilah yang dipegang oleh PMII dan kaderpun merasa nyaman. Melihat juga konsep pengkaderan harus
sesuai dengan Tri Darma Perguruan Tinggi yaitu pendidikan, penelitian ,dan
pengabdian kepada masyarakat. Oleh karena itu dalam PMII menggedepankan
bagaimana membuat mahasiswa itu mendapatkan ilmu yang berguna bagi mereka
kedepannya, tetapi tidak harus memaksakan kehendak atau menggurui seseorang
apalagi membentak. diterapkan pula dalam PMII Partner Divelopment dengan cara
mengajak musyawarah atau sharing bersama kepada mahasiswa baru.
Pengkaderan
dalam PMII juga membuat mahasiswa baru mengetahui fungsinya sebagai mahasiswa.
karena sebagai mahasiswa bukan hanya mempunyai fungsi akademik tetapi juga
banyak fungsi lain. Contohnya mahasiswa berfungsi sebagai agen of change (agen
perubahan), social control (pengawal kebijakan pemerintah), moral force
(teladan masyarakat). Tetapi semua itu harus di sampaikan dengan cara yang
benar sehingga mahasiswa baru dapat mengetahui hakikat dan fungsinya sebagai
seorang mahasiswa.
Dalam
tubuh PMII dalam konsep pengkaderannya tidak akan melupakan tiga hal, itulah
yang akan membangun para kader dan membuat mereka memiliki rasa saling memiliki.
Yang
pertama yaitu diskusi dalam pengkaderan itu sendiri tidak akan
pernah terlepas dengan yang namanya Diskusi, dengan diskusi kita bisa membaca
situasi sosial yang ada dan juga sebagai wujud pengembangan sumber daya
manusia, itu yang lebih penting. Dan yang pasti dalam diskusi akan erat
kaitannya dengan membaca karana diskusi dan membaca adalah salah satu bentuk
yang tak pernah bisa dipisahkan. Karena dalam pengkaderan PMII, kita sebagai
masyarakat pergerakan harus tau apa yang akan kita tempuh sebelum bergerak.
Yang Kedua
yaitu Menulis tidak bisa di pungkiri bahwa setiap manusia jika
ingin diakui eksistensinya ia harus mempunyai karya, karna dengan menulis kita
akan dikenang. Dan lewat tulisan juga pemikiran kita akan dibaca dan di anut
oleh pembaca dan memberi varian baru dalam pemikiran kader PMII sendiri.
Yang
Ketiga yaitu Aksi yang sering kita sebut turun jalan, karena
itulah PMII ada. Kata “P” dalam PMII adalah pergerakan , karina itu kita tidak
bisa meninggalkan hal yang paling penting dalam tubuh PMII itu sendiri. Setelah
kita tahu apa permasalahan masyarakat dan mendiskusikannya, akhirnya kita
mempunyai tujuan yang harus dilakukan setelah kita semua sadar dengan
permasalahannya baru kita menentukan sikap. Dalam hal ini kita adalah agen social
of change yang senantiasa menjadi tangan kanan masyarakat dan sebagai
pengontrol setiap kebijakan pemerintah yang merugikan harkat dan martabat orang
banyak ( rakyat).
Tetapi
yang terpenting dari itu adalah dalam PMII memanusiakan mahasiswa baru
bukan membuat sebuah robot mahasiswa yang selalu patuh pada seniornya. Dan
untuk memanusiakan mahasiswa baru, harus di lakukan dengan cara yang manusiawi
dan melalui proses pengalaman serta pengamalan yang mulia dan bertanggung jawab
dan bukan melalui sebuah program pengkaderan yang penuh penyiksaan, tekanan dan
doktrin.
Komentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapusApa boleh sesudah mengikuti mapaba tidak ikut dicklat selanjutnya yaitu pkd
BalasHapus