KADERISASI BERBASIS KOMPETENSI DAN PENDIDIKAN KRITIS DALAM BINGKAI IDEOLOGI PERGERAKAN MAHASISWA

Oleh : Ach.Kurniawan

Basis kader PMII adalah mahasiswa yang dalam fase usia identik dengan keremajaan. Suatu fase transisi antar kanak-kanak dan kedewasaan. Pada fase ini, kecenderungan mencari jati diri sangatlah besar untuk mendapatkan arah, orientasi, pandangan dan tujuan hidup di masa depan. Berbagai macam eksperimentasi banyak dilakukan, dalam terbentuknya suatu pandangan hidup, intelektual dan keterampilan.
Sebagai mahasiswa yang hidup dalam lingkup civitas akademika, kader PMII berada dalam lingkaran kompetensi bidang atau jurusan yang di geluti, yang tentunya sangat mempengaruhi pula dalam pembentukan arah dan tujuan hidup di masa depan. Kader PMII terdiri dari beragam kompetensi jurusan disetiap kampus masing-masing. Dan tentunya hal ini merupakan kekayaan sekaligus aset organisasi yang mutlak perlu di hargai dalam arti mengembangkan dan memberdayakan kader sesuai dengan bidang kompetensi yang di gelutinya.
Selama ini pola kaderisasi PMII hanya berjalan dua arah, yang mana saling menegasikan antara satu dengan yang lainnya, yakni intelektual dan gerakan sosial. Tidak ada ruang bagi pengembangan profesionalitas, wirausaha, dan keterampilan teknis di dalam ranah ke-PMII-an. Kader PMII yang mengembangkan diri diluar arah intelektual dan gerakan sosial cenderung meras terkucilkan dalam ber-PMII, karena sudah menjadi stereotype bahwa diluar kedua arah tersebut berarti keluar dari mindstream pergerakan. Walhasil, PMII penuh dengan para pemikir dan aktivis sosial yang semuanya dimobilisasi keranah politik. Padahal sebagai sebuah komunitas yang mengidentifikasikan diri sebagai komunitas yang turut mempengaruhi fenomena kebangsaan, PMII harus memiliki segalanya, tapi bukan berarti kader PMII adalah kader yang ambisius akan posisi, melainkan hal itu sangat diperlukan bagi seorang kader PMII sebagai stimulus dalam mewujudkan apa yang dicita-citakan, salah satunya tempat-tempat yang strategis sebagai jalan untuk membentuk gerbongisasi dalam pergerakan PMII, sehingga mempunyai akses keseluruh sektor kehidupan bermasyarakat. Kenyataan seperti ini memang tidak lepas dari momentum sejarah kelahiran PMII. Dimana PMII lahir dalam pergolakan sosial politik kebangsaan pasca kemerdekaan pada masa itu sekaligus mempertahankan dan mengawal penuh keutuhan NKRI.
Tapi momentum hari ini berbeda, sejalan dengan perkembangan zaman yang terus melaju dan maju, mestinya dalam memaknai konsistensi sejarah dengan mengambil ruh ideologisnya sebagai penentu arah, pandangan dan orientasi hidup setiap kader PMII. Dimana ruh ideologis sejarah tersebut dapat mempertemukan dan mempersatukan semua kader PMII dimanapun berada dan di sektor apapun bergerak dan membangun. Tuntutan momentum era dimana kita berada hari ini adalah profesionalitas dan kompetensi di segala sektor kehidupan. Berbeda dengan tuntutan momentum pada sejarah berdirinya PMII yang sedang mengalami pergolakan sosial politik pasca kemerdekaan. Hari ini kita berada di tengah-tengah persaingan yang mengglobal, sehingga pada level komunitas kita dituntut untuk membangun kualitas kader yang tidak hanya militan secara ideologis tetapi juga berbekal penguasaan keterampilan teknis di bidangnya masing-masing.
Pola kaderisasi yang telah berlangsung selama ini tidak berarti harus ditinggalkan. Tetapi tetap dilanjutkan sebagai bentuk internalisasi pemikiran dan ideologis. Dan selanjutnya melengkapi dengan pola kaderisasi yan selama ini denegasikan, yaitu membangun kompetensi, profesionalitas dan keterampilan teknis disetiap bidang jurusan masing-masing personalitas kader.
PMII harus memiliki tanggungjawab representative sosial kemasyarakatan yang majemuk dan dituntut untuk menjadi “agent of transformation” melalui dinamika pergerakan yang konstruktif dengan landasan strategis menuju suatu tatanan masyarakat yang adil dan makmur dalam sebuah bingkai kemanusiaan (humanist). Berawal dari tanggung jawab inilah peran mahasiswa sangat dominan sebagai tokoh sentral  episode reformasi yang terjadi pada bulan Mei 1998 yang lalu. Gerakan mahasiswa yang bersumbu pada sikap kritis akan ketimpangan sosial pada waktu itu, seakan-akan menjadi peletup untuk bangun dari tidur panjang. Sebuah gerakan nurani untuk membela masyarakat yang termarjinalkan dan juga gerakan moral untuk menjadikan bangsa dan negara yang demokratis, dan PMII telah menjadi bagian dari episode tersebut.
Kemudian yang menarik untuk dikaji adalah sejauh mana peran pendidikan kritis tersebut bisa dijadikan legitimasi akan arah gerak PMII. Sebab, bagaimanapun juga aspek pendidikan cenderung akan membentuk ideologi yang beragam pada masyarakat, khususnya mahasiswa.
Selanjutnya, apa yang haruskan dilakukan kader PMII adalah pengembangan pola dan arah kaderisasi yang menjadi titik awal dari upaya dalam membangun kompetensi, profesionalitas dan keterampilan teknis disetiap bidang jurusan masing-masing personalitas kader. Hal ini sudah nampak jelas terlihat dalam sebuah diskusi-diskusi kecil, obrolan ringan, diskusi klobot maupun kegiatan-kegiatn yang terselenggara. Dan apa yang telah di mulai perlu penajaman-penajaman dan sosialisasi pada seluruh institusi dan kader PMII di seluruh wilayah nusantara, agar kita semua dapat bangun dari keterlenaan romantisme sejarah masa lalu dan bangkit dalam menyongsong masa depan yang gemilang.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

TUJUAN PENGKADERAN MAPABA PMII

Gender